jurnalis yang selalu ingin jalanjalan dan merekam setiap momen dalam gambar dan tulisan.
melihat dunia dari balik lensa
Pengen tahu seperti apa bentuk sepeda seharga Rp 75 juta? Ya seperti ini rupanya. Sepeda yang senilai rumah type RSS itu merupakan barang bukti pembobolan rekening PT Elnusa di Bank Mega Jababeka, Cikarang yang disita Direktorat Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Metro Jaya.
Kok bisa mahal ya? Ternyata bahan sepeda itu jauh beda dengan sepeda harga Rp 2 atau 3 juta. Sepeda yang rangkanya terbuat dari karbon itu bisa diangkat hanya dengan dua jari, telunjuk dan jari tengah. Jauh beda dengan sepeda Rp 2 atau 3 juta yang harus diangkat dengan tangan dua plus keringetan. Sepeda keren. Sampai-sampai untuk mendapatkanyya pun harus dengan jalan yang "keren" pula.Sejak tahun 2010 lalu, polisi menegaskan kalau pengendara motor atau penumpangnya dilarang menggunakan helm catok. Kalau kepergok menggunakan helm catok, maka jangan berharap akan diampuni pak polisi dari surat tilang. Tapi eh tapi..kok pak polisi yang satu ini pake helm catok ya..apa karena polisi ga akan ditilang sama polisi?
Si anak kelas II SD mendapat tugas dari gurunya. Yakni menanam kacang tanah di dalam gelas plastik dengan media tanah merah. Selama satu pekan, tanaman itu diperhatikan, disirami dengan air. Tapi setelah dinilai oleh sang guru, si anak langsung acuh. Dan tanamannya pun melayu.
Cokelat ala telur paskah. Menggiurkan. Menggoda untuk digigit. Tapi sayang juga kalau dimakan. *dilema*
Tidak semua perkantoran yang menyediakan kotak saran untuk karyawannya. Tapi tidak semua karyawan juga mau menyalurkan ide-idenya ke kotak saran. Lalu bagaimana dengan kotak saran Koran Tempo? Apakah akan tetap melompong seperti kotak saran lainnya?
Sebetulnya ini hanya sebuah gereja di tengah kota. Tepatnya di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Tapi entah kenapa, saat melihat gereja ini berpadu dengan langit biru dengan secorak awan putih, saya jadi tertarik mengambil gambarnya.
Saya menemukan high heels ini teronggok di pinggir trotoar Zhongshan Road, Guilin, Cina. Entah punya siapa dan nggak tahu juga kenapa dia ditinggalkan pemiliknya.
Kota Guilin itu hampir mirip dengan Jakarta. Bedanya, lalu lintas di sana nggak berisik dengan suara klakson atau penuh asap knalpot. Bahkan nggak pernah macet. Selain itu, pemerintah Guilin menyediakan jalur sendiri untuk sepeda dan motor. Jadi kalau naek sepeda di sana, cukup santai.